Sabtu, 19 Desember 2015

Tagayan Hijau; Mengalirkan Kearifan Alam dan Hijaunya Bumi

“Tagayan itu apa, bahasa apa?” atau dengan sedikit plesetan seperti, tagayau, tagana, tayagan, sudah sangat sering saya dengar dari orang-orang setiap kali melihat spanduk yang terpampang di teras samping rumah saya. Pertanyaan apa itu Tagayan, dari bahasa apa itu, pertanyaan lumrah seperti itu bisa saya pahami, karena bahasa Tagayan memang sangat asing di telinga mereka. Namun plesetan terhadap Tagayan bisa disengaja, bisa pula karena memang keterasingan kata itu sendiri, maupun kelupaan penyebutan karena tidak familiarnya kata itu di lidah mereka, sehingga terkesan terpleset bahkan takulidas
 Ya, dua kasus di atas bisa disimpulkan karena kata Tagayan memang tidak familiar dilidah dan telingga orang-orang yang baru mendengar atau melafalkannya.
Sebenarnya mulai awal blog ini dibuat, saya juga kesulitan untuk menamainya, mencari nama yang tidak familiar itu lumayan susah bagi saya. Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan nama Tagayan Hijau di blog ini, facebook dan belakangan saya gunakan untuk nama usaha saya.
Tagayan terkesan kampungan, iya benar memang kampungan kok, karena Tagayan hanya ada di kampung, salah satunya kampung halaman di mana saya di lahirkan di Desa Paring Agung Kecamatan Sungai Raya Kab. Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan.
Tagayan adalah sebuah tempat penampungan air yang dibuat dari bambu jenis walang yang dikenal besar dan pajang dibanding bambu pada umumnya. Bambu tersebut sengaja dipotong panjang berkisar 3-4 meter. Buku-bukunya ditumbuk menggunakan kayu dan disisakan buku terakhir pada satu sisinya, berdekatan dengan buku yang dibiarkan tersisa itu dibuat lubang kecil untuk mengeluarkan air, dibuat pula penutupnya dari bambu yang diraut serupa lidi besar sebesar lubang air tersebut yang diikat tali agar tidak mudah hilang.
Sedangkan disisi lainnya dibuat lubang untuk memasukkan air ke dalam bambu tersebut. Bambu penampungan air ini diletakkan pada dua buah kayu bercabang dua dengan panjang berbeda, supaya salah satunya (yang ada lubang keluar airnya) menjadi miring. Nah dengan demikian jadilah sebuah tagayan.
Tagayan biasanya ditaruh di samping sumur dan diisi dengan air sumur itu, digunakan untuk mengambil air wudhu atau bersuci lainnya. Karena digunakan untuk bersuci secara tidak langsung air yang dimasukkan tentunya air yang suci, dalam bahasa fikih disebut air mutlak, air yang suci lagi menyucikan.
Mengambil filosofi dari Tagayan inilah, makanya blog ini dinamakan Tagayan dengan harapan apa yang ada diblog ini diambil dari yang suci, bersih, ikhlas dan digunakan pula untuk keikhlasan, kesucian, kemanusiaan dan kebermanfaatan. Berharap pula usaha yang sedang dijalani menggunakan nama Tagayan ini menjadi usaha yang menambah ketakwaan, menambah rasa syukur dan bisa berbagi kebaikan dengan sesama makhluk-Nya Allah SWT.
Sementara itu, kata Hijau mendampingi Tagayan sebagai lambang kesejahteraan, ketenteraman, kedamaian dan kerindangan. Setiap orang tentunya menyukai suasana teduh, rindang, subur, indah dan itu bisa terwakili dengan warna hijau. Harapan itulah yang menjadi motivasi saya menggunakan nama hijau dibelakang kata Tagayan, sehingga orang tertarik, suka dan menyenangi blog dan usaha kami di Tagayan Hijau. Amin ya Allah ya Rabbal ‘Aalamin.
Tagayan merupakan sebuah kearifan lokal yang sudah ditinggalkan karena kemajuan zaman. Saat ini Tagayan sulit ditemukan dan mungkin sudah tidak ada lagi walau di kampung halaman saya. Tagayan mengingatkan waktu kecil saya bemain dengan alam dengan segala kearifannya.
Sudah lama pula keinginan untuk membuat Tagayan di halaman rumah-agar pertanyaan-pertanyaan tentang Tagayan bisa dijawab dengan visualisasi langsung-namun saya terkendala bahan dasarnya, yaitu bambu walang yang berdiameter besar dan buku yang jarang. Bambu ini banyak tumbuh di kampung halaman dan kampung-kampung lainnya di Hulu Sungai Selatan namun transportasi untuk meng”impor” ke Banjarmasin masih belum memadai. Semoga suatu saat Tagayan bisa terealisasi. Tagayan Hijau yang terus mengalirkan kearifan alam dan hijaunya bumi.[]
Catatan: coret-coretan gambar Tagayan sudah pernah saya buat, namun belum dipublikasikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar