Selasa, 17 Februari 2015

Ini Ceritaku Berkebun (1)

Halamanku sudah penuh dengan tanaman-tanaman tabulampot maupun yang ada di dalam polybag kecil-kecil, sedang, dan besar-besar. Dengan berbagai pertimbangan, minta saran isteri akhirnya “Bismillahirrahmanirrahim” aku putuskan untuk menyingkirkan tanaman-tanaman itu dari halaman rumahku, walau memang ada beberapa yang ditinggal untuk hanya sekedar buat memberi teduh halaman rumahku. Koleksi tanamanku bisa dilihat di sini :-)
Tebang habis pohon kakao
Kok disingkirkan? gak dijual atau dihibahkan atau diapain kah? hehe.. iya memang disingkirkan, dengan maksud
diangkut dan akan ditanam lagi dikebun yang lebih luas dari halaman. Telpon orang tua di kampung minta persetujuan dan restu, akhirnya di setujui, dan minta orang lain untuk membersihkan lahannya, sip, berkebun dimulai. Iya lahan seluas sekitar 30 borongan ( 1 borongan sama dengan 10 x 10 depa orang dewasa, atau 170 cm X 170 cm, nah tinggal kalikan saja menjadi 30 borongan, hehe...) akhirnya mulai dikerjakan pembersihannya. Diawali dengan disemprot herbisida sambil ditabasi, diriwas pakai parang, dan ditebang pakai kapak pohon-pohon kakao yang sudah terlanjur ditanam namun tidak menghasilkan. Begitu pula pohon-pohon hutan yang tumbuh liar, babat habis. Satu jenis pohon yang belum bisa ditebang dalam waktu cepat, apa itu? Pohon Sungkai atau sering disebut pohon Lurus. Kenapa tidak ditebang aja, eiiitsss… pohon ini punya nilai ekonomis lumayan tinggi, karena bahannya yang keras,motif yang bagus sehingga nilai pohon ini bisa dibilang tinggi, yaa tentunya sesuai dengan diameter dan tingginya pohon. Namun karena kebutuhan pohon ini lumayan tinggi sebagai bahan pembuatan meubel, rangka jendela, pintu dan bahan rumah sehingga kerap ditebang ketika usia masih muda. Namun juga, kalau pohon ini dibiarkan tumbuh maka akar-akarnya yang keras akan terus mencengkeram tanah dan menyedot humus kesuburan tanah disekelilingnya.
Pohon Sungai atau Pohon Lurus
Nah untuk urusan ini mesti konsultasi dulu sama orangtua, karena secara lahan ini milik orangtua, hehe.. Kembali ke topik utama, cerita berkebun. Walau sudah sekitar 3 harian gulma-gulma yang ada di lahan tersebut disemprot herbisida oleh Paman Uwil, baru di hari ke 4 aku sempat turun ke lahan untuk ikut membersihkan dan menebang pohon-pohonnya. Uwiiih…!! 2 hari, sabtu-ahad lumayan membuat aku kecapekan, pegal-pegal, dan tangan kaki mulai melepuh. Aku pikir, yah namanya juga mau berkebun, inilah risikonya, tapi memang karena berkebun, menanam dan memanen adalah bagian dari hidupku (baca: hobby) tidak masalah, toh nanti kalau diberikan umur panjang, kesehatan dan waktu luang aku juga yang akan menikmatinya bersama anak isteriku sambil duduk dipondok kecil sambil menunggu atau mencicipi buah-buah hasil tanamanku, asyik kan..? Semoga. 
Apa saja yang akan aku tanam di lahan ini? Jenis apa saja? Dan kedepannya mau diapain kalau tanamannya sudah banyak, berbuah dan gak bisa dinikmati sendiri? Ikuti terus ceritaku di sini, di tagayan hijau.

4 komentar:

  1. Jadikan tempat wisata kebun om :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh, wisata edukasi kayaknya menarik lah? :-) boleh-boleh..

      Hapus

    2. Bryan Adams18 Februari 2015 09.47
      Biar kada kalah lawan diluar pulau om

      BTW posisi kebunnya dimama ?

      Hapus
    3. amiin ya Allah, insya Allah tunggal dikitan bergerak om.. ini lokasi di Desa Kapuh Darat Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan-Kandangan. :-)

      Hapus