Senin, 17 Februari 2014

Menjaga Air, Menghijaukan Banjarmasin

Kota Banjarmasin kerap dikenal dengan sebutan Kota Seribu Sungai. Entah apa yang melatarbelakangi penyebutan ini, kenyataannya memang karena Kota Banjarmasin yang memiliki luas wilayah kurang lebih 98 KM² ini dibelah oleh Sungai Martapura dan di sambung oleh anak-anaknya yang memasuki perkampungan di Kota Banjarmasin, sehingga tidak mengherankan banyak penamaan kampung didahului dengan penyebutan kata sungai. Kota Banjarmasin persis terletak di antara belahan Sungai Martapura yang berhulu di kaki Pegunungan Meratus di Wilayah Kabupaten Banjar memasuki Kota Banjarmasin dari arah Timur Laut menuju Barat Daya dan bermuara di Sungai Barito. Anak-anak sungainya di musim kemarau airnya menjadi payau akibat masuknya air laut ke darat. Melihat dari sejarah dan profil Kota Banjarmasin yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sungai dan air, mengindikasikan bahwa air dan sungai menjadi sangat penting kehadirannya bagi masyarakat Kota Banjarmasin, sejak dulu sampai sekarang.
Sebagian aktifitas masyarakat Kota Banjarmasin di lakukan di sungai, baik sebagai prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan, perdagangan (pelabuhan dan pasar terapung), perumahan (rumah lanting), maupun kegiatan sehari-hari seperti mandi-cuci-kakus (MCK).
Air merupakan kebutuhan pokok kedua setelah udara, karena 70% bobot tubuh orang dewasa adalah air. Semua makhluk hidup diciptakan Allah dari air, firman Allah dalam Surah al Anbiya (21) ayat 30 “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup” Air merupakan komponen terpenting dalam pembentukkan sel yang merupakan satuan bangunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Fisiologi menyimpulkan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik. Hilangnya fungsi itu berarti kematian. Ayat tersebut di atas mengharuskan kita untuk menjaga sumber air bersih sebagai penopang mutlak kehidupan. Setiap perilaku yang mengancam ketersediaan air bersih sama dengan upaya membawa kehidupan menuju kematian. Dalam menyambung hidup, air digunakan untuk banyak hal, baik itu untuk minum, mandi-cuci-kakus (MCK), bahkan untuk menghadap Sang Pencipta kita diwajibkan bersuci dengan menggunakan air. Sayangnya kita tidak pernah menghitung seberapa kubik air yang sudah kita pakai, seberapa banyak liter air yang sudah kita boroskan. 
Pernahkah kita membayangkan hidup di tanah tandus yang gersang tanpa setetes airpun? Atau pernahkah kita merasakan sulitnya mendapatkan air, berjalan berkilo-kilo meter, mendaki gunung dan menuruni lembah hanya untuk mendapatkan air ? Bagi kita yang hidup di daerah ‘basah’, seperti Banjarmasin misalnya, tentunya pertanyaan di atas dengan mudahnya bisa kita jawab hanya dengan gelengan kepala, tidak pernah!. Air berlimpah ruah, kapanpun menginginkannya kita bisa menemukan dan menggunakannya. Ternyata mudahnya mendapatkan air, tidak seimbang dengan kualitas air yang harus kita konsumsi. Air kerap diperlakukan seenaknya, dicemari, bahkan dizalimi. Sungguh sangat tidak sebanding dengan kebutuhan manusia itu sendiri terhadap dirinya. Setiap datangnya musim penghujan, saluran yang hanya boleh dilewati oleh air, sering direbut oleh sampah yang kita buang sembarangan, lahan rawa yang seharusnya dapat mengalirkan air ke sungai atau ke laut kini direnggut paksa oleh maraknya peng-uruk-kan. Coba kita banyangkan suatu ketika perusahaan air menyetop pasokan air di wilayah kita untuk satu hari saja, sedangkan kita tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya, maka kala itu air akan terasa sangat mahal dan menggunakannya pun penuh dengan pertimbangan matang, dan hanya akan digunakan untuk sesuatu yang memang dianggap sangat penting sekali. Namun ketika air sudah kada bawayahan dengan sombongnya kita menggunakan seenaknya bahkan terkesan boros dan mubazir. 
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW ketika berwudhu memakai ukuran dalam menggunakan air. Beliau pernah bersabda “Hematlah dalam memakai air, walaupun di atas lautan” Dua riwayat hadis di atas bisa diambil pelajaran bahwa ajaran agama kita sangat menghormati air dalam penggunaannya. Begitu pentingnya menjaga air sehingga penggunaan, pemeliharaan dan pengelolaannya diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Dalam peraturan perundang-undangan tersebut pemerintah pusat, propinsi, kabupaten/kota sampai ke desa-desa mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk memelihara, menjaga dan mengelola sumber daya air yang dimaksud. Namun realita di depan mata kita saat ini, sungai-sungai yang ada di Banjarmasin semakin hari semakin mengalami pendangkalan, penyempitan bahkan sampai hilang. Ini tidak lain adalah karena budaya masyarakat kita yang masih belum bisa menjaga kelestarian sungai sebagai sumber daya air yang digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan catatan Dinas Pemukiman dan Prasarana Kota Banjarmasin, dalam Sembilan tahun terkahir , 57 sungai telah raib. Tahun 1995, di Banjarmasin masih ada 117 sungai, tahun 2000 tinggal 70 sungai. Pada tahun 2002 sungai masih berfungsi mengalirkan air dan dapat dijadikan jalur transportasi tinggal 60 sungai. Ada tiga penyebab utama hilangnya sungai-sungai tersebut. Pertama pembangunan pemukiman yang mengambil sebagian wilayah sungai. Kedua, kurangnya kesadaran masyarakat untuk menghargai keberadaan sungai dengan membuang sampah dan berakibat pendangkalan. Ketiga, lemahnya suprastruktur yang mengatur tata pemukiman dan pembangunan yang berwawasan sungai. Dengan terus menghilangnya anak-anak sungai yang membelah Kota Banjarmasin karena tertutup bangunan, baik yang dibagunan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah sendiri, julukan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai mulai pudar. Bahkan bukan tidak mungkin sungai bisa mengalamai redenominasi, yang semula 1.000 sungai menjadi 1 sungai. Hal yang sangat penting lainnya adalah menjaga lingkungan sekitar kita, termasuk menjaga udara yang kita hirup setiap saat. 
Penjagaan udara tentunya dengan menciptakan suasana sejuk dan rindang disekitar pekarangan rumah, toko, kantor, sekolah, kampus, tempat ibadah maupun sekitar fasilitas umum lainnya. Paling mudah dilakukan adalah dengan menanam pohon. Kembali ke alam, adalah solusi terbaik yang bisa kita lakukan untuk menciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan sehat. Penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) bagi kota besar seperti Banjarmasin merupakan langkah tepat menyelamatkan lingkungan, menggalakkan kembali one man one tree dan memberikan sanksi kepada para pelanggar peraturan yang mengindahkan aktifitas penyelamatan lingkungan, seperti sanksi buang sampah sembarangan, penebangan pohon tanpa izin dan lain sebagainya. RTH yang selama ini bisa diandalkan Banjarmasin adalah halaman Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, dan lapangan Kamboja. Ada beberapa lokasi yang mungkin bisa digunakan sebagai alternatif RTH selanjutnya, antara lain kampus Unlam, dan kampus IAIN Antasari dengan menggalakkan penanaman pohon. Lingkungan sekolah yang teduh seperti di Komplek Mulawarman Banjarmasin juga menambah volume Ruang Terbuka Hijau di kota ini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Kalau semua bisa terlaksana maka bukan tidak mungkin lima atau tujuh tahun mendatang Banjarmasin kembali asri dengan teduh dan rindangnya pepohonan. Dengan demikian juga dapat memperlambat laju air menggenang kota ini yang sebelumnya pernah diprediksi akan tenggelam dalam kurang lebih 50 tahun mendatang. Hari bebas kendaraan bermotor yang selama ini dijalankan pada hari minggu sangat memberikan kenyamanan bagi penghuni kota ini. Begitu pula jika ada upaya dari pemerintah yang akan mewajibkan pegawainya menggunakan sepeda ketika pergi ke kantor pada hari-hari tertentu juga perlu mendapat dukungan dari semua lapisan masyarakat. Tugas menjaga sumber daya air dan lingkungan adalah tugas seluruh komponen masyarakat. Kasadaran itu ternyata masih belum manjadi perioritas kita sebagai masyarakat Banjarmasin. Sebagai contoh, masalah klasik dari terjadinya penyempitan bahkan hilangnya sungai sebagai sumber daya air di Banjarmasin adalah kebiasaan buruk membuang sampah ke sungai. Perda membuang sampah sembarangan dengan segala ketentuan dan sanksinya belum dijalankan secara maksimal. Begitu pula aturan tentang pendirian bangunan permanen dengan sistem panggung yang diyakini bisa memperlancar sanitasi air belum terdengar gaung sanksi tegasnya. Memberikan arahan -tepatnya perda-kepada pemilik warung tenda, warung makan dan restoran di sekitar jalan A. Yani Km 1 sampai Km 6 untuk tidak membuang limbah warungnya ke sungai juga merupakan langkah yang aprisiatif untuk normalisasi sungai. Mengajak pemilik toko, perkantoran, bengkel, warung makan, restoran, perhotelan dan lain sebagainya untuk secara berkala membersihkan sungai-sungai yang ada di halaman mereka, bukan mustahil nantinya sungai tersebut bisa normal kembali. Meoptimalkan kembali Perda Sungai No. 2 tahun 2007 yang melarang mendirikan bangunan di bantaran sungai juga melarang menjadikan sungai sebagai kakus (wc) dan pemanfaatan sungai untuk pembuangan sampah yang hukumannya dikenakan kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi Rp. 50 juta. Tujuannya tidak lain adalah mengamankan sungai dan daerah sekitarnya yang meliputi daerah aliran sungai, arus air, dan tebing (bantaran sungai). Upaya-upaya kecil yang bisa dilakukan namun apabila dilaksanakan dengan penuh kesadaran maka akan membawa kemanfaatan yang luar bisa bagi terjaganya lingkungan di Banjarmasin. Pertama, tanamkan dalam diri dan keluarga kita akan petingnya menjaga air, sungai dan lingkungan hidup. Contoh sederhana adalah membiasakan jangan membuang sampah sembarangan walau itu hanya sekecil kulit permen. Kedua, sampaikan kepada teman, kenalan atau anak-anak disekitar tempat tinggal kita bahwa berperilaku hidup bersih, sehat dan teratur adalah perbuatan yang menyelematkan banyak orang. Ketiga, ajak beberapa orang, buat kelompok swadaya masyarakat peduli lingkungan di setiap kelurahan atau bahkan di setiap Rukun Tetangga (RT) di lingkungan tempat tinggal kita. Sampaikan kepada masyarakat disertai tindakan nyata akan pentingnya menjaga lingkungan. Keempat, rangkul tokoh masyarakat, tokoh agama untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan kepada ummatnya. Sifat religiusitas masyarakat Banjarmasin mempunyai pengaruh besar terhadap ketaatannya kepada pesan yang disampaikan tokoh agamanya. Ulama contohnya, ulama disebut sebagai bagian dari masyarakat yang mempunyai andil besar terhadap perkembangan kehidupan bermasyarakat. Ulama adalah satu elemen masyarakat yang paling banyak interaksinya dengan ummat. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mengajak ummat untuk menjaga keseimbangan alam sembari kembali mensosialisasikan fatwa Majelis Ulama Indonsia (MUI) tentang keharaman perilaku merusak lingkungan. Sedikit atau banyak yang kita lakukan demi lestarinya sungai dan lingkungan akan sangat berarti bagi kehidupan ini. Semoga Bermanfaat. []

2 komentar:

  1. Saya sangat setuju bang,bahkan saat ini kita telah merasakan dampak dari serakahnya manusia

    BalasHapus
  2. Saya sangat setuju bang,bahkan saat ini kita telah merasakan dampak dari serakahnya manusia

    BalasHapus