Selasa, 18 September 2012

Uniknya Layang-layang Dandang



Setiap usai panen, masyarakat Desa Paring Agung Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kandangan) Kalimantan Selatan biasanya sibuk mempersiapkan permainan musiman mereka. Permainan tradisional itu ialah bermain kalayangan (layang-layang) Dandang dengan ukuran lebar mencapai 4 meter dan panjang 6 meter dilengkapi pula dengan dua buah Kukumbungan.  
www.tagayanhijau.com
SIAP TERBANG - Dandang dengan ukuran lebar mencapai 4 meter dan panjang 6 meter
Kukumbangan adalah media yang mengeluarkan suara terbuat dari satu ruas bambu besar jenis batung berdiameter mencapai 12 cm dengan panjang sekitar 50 cm. semakin besar dan panjang Kukumbangan maka semakin nyaring suara yang dikeluarkannya.
Kukumbangan ditaruh dibahu dandang dan diikat dengan tali, sedangkan bibirnya diarahkan ke depan sehingga bila hembusan angin menerpanya maka keluarlah suara menyerupai bunyi kumbang, berdengung dan bergemuruh. Itulah makanya alat ini disebut kukumbangan.
www.tagayanhijau.com
KUKUMBANGAN - Macam-macam Kukumbangan

Bambu jenis ini sudah mulai langka dan banyak tumbuh dipegunungan, tak heran kalau harga satu pasang kukumbangan mencapai puluhan sampai ratusan juta rupiah. Konon di Desa Sarang Halang Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan ada yang berminat menukarkan mobil Toyota Avanzanya dengan sepasang kukumbangan, namun si pemilik kukumbangan masih enggan melepasnya. Satu hal yang unik lagi dengan kukumbangan adalah usianya yang mencapai tiga puluhan tahun.
Rangka dandang dibuat dari bambu tua pilihan yang dikeringkan bahkan ada yang merendamnya lebih dahulu ke dalam air lumpur beberapa bulan agar bambu menjadi kuat dan tidak mudah dimakan kumbang maupun rayap. Untuk membuat sebuah dandang diperlukan waktu hampir satu minggu dengan biaya ratusan ribu sampai jutaan rupiah tergantung ukuran dandang.
www.tagayanhijau.com
DANDANG - Membuat dandang perlu waktu sekita satu minggu

Tubuh dandang terbagi ke dalam empat bagian, pertama bagian paling atas disebut dengan patuk (kepala), kedua awak (badan) ketiga papat (sejenis kaki) dan keempat buntut (ekor) dari kain panjang sehingga akan meliuk-liuk bila ditiup angin ketika ‘diterbangkan’. Rangka dandang yang sudah dibentuk dengan ikatan tali-tali untuk memperkuatnya kemudian dilapisi dengan kertas atau plastik sehingga terbentuklah dandang yang utuh. Disetiap ujung dari dandang tersebut digantungi rumbai (kertas atau plastik yang sudah digunting menyerupai tali) sebagai hiasannya.
Uniknya lagi masing-masing dandang dan kukumbangannya punya nama tersendiri, misalnya, Wali Kutub, Amuk Hantarukung, Ampera, Bendera, Naga Balimbur (sejak 1972),  Sunan Kalijaga, Gunung Mas, Galunggung (sejak 1972) sampai Mbah Surip dan masih banyak nama unik lainnya.
www.tagayanhijau.com
KUKUMBANGAN - Sunan Kalijaga salah satu nama unik kukumbangan

Keunikan lainnya adalah kekompakkan para pecinta layang-layang ini yang banyak tersebar di dua daerah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kandangan) dan Kabupaten Tapin (Rantau), berjarak sekitar 130 km dari Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan. Masyarakat dua daerah ini biasanya mengadakan event badandang (bermain layang-layang dandang) disepanjang musim kemarau, biasanya diselenggarakan disetiap usai panen padi. Undangan badandang disampaikan dari mulut ke mulut atau dengan selebaran yang ditempel di tempat umum, warung teh dan sebagainya, siapapun yang berminat untuk menyaksikannya tidak dipungut biaya sepeserpun.
Setiap event badandang dihadiri ratusan dandang dan masyarakat untuk menyaksikannya dihibur dengan lantunan syair Japin Banjar.
Acara akan semakin meriah kalau angin berhembus deras, masing-masing si empunya dandang mempersiapkan dandangnya untuk diterbangkan, ditarik dengan seutas tali panjang oleh satu atau beberapa orang (untuk dandang yang besar) dengan satu atau dua orang meanjung (mengarahkan kepala dandang ke atas) dengan terlebih dahulu mengikuti aba-aba teman lainnya.  Setengah jam kemudian maka akan terdengar bunyi kukumbangan yang saling bersahutan, bergemuruh dan bisa didengarkan sampai puluhan kilometer. 
www.tagayanhijau.com

Saking banyaknya peserta yang mengikutinya tidak jarang ada saja tali-tali dandang tersebut saling terkait sehingga menyebabkan dandangnya oleng dan jatuh ke tanah dan mengundang gelak tawa para penonton, namun semangat mereka untuk meundak (menerbangkannya) kembali tidak pernah hilang, inilah salah satu keunikannya lagi.
www.tagayanhijau.com

Tradisi Badandang akan terus turun temurun dalam masyarakat Banjar khususnya Kandangan dan Rantau dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan, rakat mufakat dan ruhui rahayu sampai tuntung pandang dilandasi oleh jiwa Waja Sampai Kaputing.

19 komentar:

  1. wayah nie ada yang belampu di pasang bubuhannya di atas sentra antasari om ae, 1/2 bulan kada beturunan ujar.. wkwkwkwkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha.. iyakah Om..napa nang dipasang, balon kah?

      Hapus
    2. Mulai bahari sudah belampu, nang beulah urang Madura, lihai2 buhannya. Tapi wayahini agak jarang kulihat di Banjarmasin.

      Hapus
    3. bentuknya ampun urang madura tu sama kaya kita ni jua lah Om?

      Hapus
  2. Nah nang balampu tu aku ada melihat malam mulai binuang ke rantau... sangkah ku apa kah galirap2an...

    Oia di, ada mitos nh jar abahku biasanya setiap acara badandangan jarang mau barangin... bujur lah tu? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. he eh wahini dilampui urang dandangnya..
      iya ah, nah am kada bisa tadangar pang, tapi dasar bujuran mun urang baistilah baacara biasanya kada barangin, mun hari-hari barangin haja pang..

      Hapus
  3. Numpang nambahiakan nah dingsanaklah..

    Foto paling bawah: boleh disebut dengan istilah "dandang manyungkam" (badan dandang menghunjam ke tanah).

    Hal ini biasanya terjadi karena salah setting "tali rajut", angin berhembus terlalu kuat, atau bisa pula karena sang tukang "undak" dandang yang belum terlalu lihai "manyisit dan malumbar" tali (menarik dan melepaskan tali) pada saat mau menurunkan dandang dari udara. Maka disitulah perlu teknik tertentu dalam menurunkan dandang dan menjaganya agar badan dandang turun mendarat tetap dalam posisi datar. Ada kepuasan dan kebanggan tersendiri biasanya bagi sang "tukang undak" dandang bila kita bisa menurunkannya hingga mulus ketanah belukar tanpa cacat atau robek. Karena ada beberapa kemungkinan yang terjadi bila kita salah dalam melumbar tali saat menurunkannya. Kemungkinan pertama; dandang manyungkam (seperti foto diatas) dan menyebabkan patuk dandang patah. Kerusakan itu masih biasa, karena bila jatuhnya dandang terlalu kuat bahkan bisa merusakkan badan dandang itu sendiri beserta "kukumbangannya" (pecah, dll). Kemungkinan kedua adalah, dandang bisa mengenai tali dari dandang lain disebelahnya, atau tersangkut dipepohonan.

    Jadi,layaknya seorang pilot pesawat yang mendaratkan pesawat ke landasan, ia harus lihai membawa pesawatnya agar dapat mendarat dengan mulus.

    Demikianlah kira-kira salah satu sudut dari banyak sudut keunikan lainnya dalam BADANDANG.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah mantap tatambahannya, rinci banar Om ai..terima kasih..

      Hapus
  4. Mantap nah, habarnya sagan nang kd talihati orang bedandang di kandangan. Lagi halus dahulu sorang bisa jua membawa bukah dandang sampai tagulung2 hahhahahhhaa seep

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya am, barakat bulik urang saruan badandang..wahini kawa haja lah kira2 mambawa bukah pulang Om..? hihi..

      Hapus
  5. Wah, rasa Rindu lawan Kampung Halaman ih. Ulun lagi halus bediam di Rantau Pang (Tapin). Keganangan behari bebubukahan besasanjaan menaikakan dandang

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ah, nah sadang bajalanan ka kampung pulang, rami takumpulan mambawa bukah dandang.

      Hapus
  6. wuih keren nie.. waktu kecil suka main layang-layang dengan berbagai bentuk. Tapi di daerahku Pasuruan tidak ada acara seperti ini. Anak-anak juga jarang yang main layang-layang sekarang.. tdk tahu apa penyebabnya.. mungkin anak-anak sekarang lebih sering main game online..heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kayaknya, udah gak zamannya kali yah..padahal tradisi layang-layang patut untuk dilestarikan..

      Hapus
  7. Balasan
    1. iya..tergantung besar dan panjangnya kukumbangan..

      Hapus
  8. Tradisi itulah yang harus dipertahankan... jangan sampai hilang dimakan waktu ^._.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget..mesti kita jaga dan pelihara tradisi ini..

      Hapus
  9. Tulisannya bagus mang, lanjutakan

    Twit @BuhanPahuluan

    BalasHapus