Selasa, 01 Mei 2012

Menyapa Pengrajin Kumpang Parang

Desa Paring Agung, Kec. Sungai Raya Kab. Hulu Sungai Selatan Kelimantan Selatan
Memotong kayu bunga kenanga 
Bertandang keperkampungan memiliki kesan tersendiri, apalagi itu kampung halaman tempat kita dilahirkan, tempat bermain dan membesarkan kita. Bercengkrama dengan masyarakat setempat, menikmati sejuknya udara, menyaksikan kearifan alam dan belajar dari kehidupan mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli ketika kita berada diperkotaan dengan hiruk pikuk segala kepentingan.

Akhir pekan dipenghujung bulan April lalu aku pulang kampung untuk kedua kalinya setelah lebih dari dua bulan tidak menyapa tempat kelahiranku ini. Siang yang terik aku pacu kendaraan bututku dari Kota Banjarmasin menuju Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Setelah tiga jam lebih sampailah aku di Kecamatan Sungai Raya dan langsung menuju kampungku Desa Paring Agung. Sengaja aku lepaskan masker penutup hidungku dan kubuka lebar-lebar kaca helmku, kutarik dalam-dalam nafasku, kuhirup sebanyak mungkin dan kupenuhi hidungku dengan udara perawan ini untuk sekedar menyeimbangi polusi yang terlanjur masuk kerongga pernafasanku. Sepanjang jalan masih terlihat pohon-pohon yang menjulang tinggi, hijau dan rindang, mataku benar-benar dimanjakan oleh pemandangan ini.
Membelah kayu menjadi beberapa bagian kecil
Terus kutelusuri jalan ini dengan kecepatan ringan sampai akhirnya aku berhenti pada sekelompok orang yang lagi asyik berkumpul sambil menyaksikan dua teman lainnya membelah potongan-potongan kayu berdiameter sekitar 30 cm dengan kapaknya menjadi bagian-bagian kecil.
Mereka sedang membuat kerajinan sarung dan gagang (banjar: kumpang dan hulu) parang dari pohon kayu bunga kenanga hutan. Profesi ini kebanyakan dilakoni oleh para pemuda sejak pagi hari bahkan sampai malam hari.
Salah seorang yang melakoni usaha ini adalah  Mulkani (28) yang sudah lima tahun lebih memulai usahanya.
Bahan mentahnya yaitu pohon kayu bunga kenanga hutan yang mereka beli berkisar dari Rp. 100.000 sampai Rp. 200.000 perpohon tergantung diameter pohonnya.
Kumpang siap ketahap pewarnaan
Hulu parang
“Bahan mentahnya sekarang sudah mulai susah dicari, apalagi dengan diameter lebar, kami mencari sampai ke kampung sebelah” ujarnya.
Potongan-potongan kayu dengan panjang 50 cm itu mereka bagi lagi dalam beberapa bagian tipis dengan ketebalan sekitar 7 cm, kemudian ditatah sesuai pola yang diinginkan agar ukuran dan bentuknya sama. Tahap selanjutnya adalah membentuk bagian-bagin sebagai aksen seninya, setelah itu dibelah lagi menjadi dua bagian, diraut sampai halus, dijemur, setelah itu sampai ketahap pengeleman dan tahap terakhir adalah pewarnaan.
Setiap hari mereka bisa menghasilkan 5 pasang kumpang dan hulu parang perorang dan dalam seminggu mampu mengumpulkan uang sekitar Rp. 300.000 lebih.
Contoh kumpang dan hulu yang sudah selesai
“Tergantung jenis kumpang dan hulu yang dipesan, kalau parang panjang lantik agak mahal Rp.16.000, kalau parang bungkul pendek cuma Rp. 8.500 perpasang” lanjutnya.
Mulkani dan teman-temannya punya langganan tetap yang akan datang ke rumah untuk mengambil hasil kerajinannya, biasanya dari pengrajin parang itu sendiri yang terpusat di Nagara Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebagai sentra kerajina besi dan tanah liat.
Sayangnya keberlangsungan usaha ini akan terkendala apabila bahan baku yang mereka gunakan tidak lagi tersedia. Lagi-lagi masalah pelestarian atau upaya penanaman kembali yang belum terpikirkan oleh si pemakainya sendiri maupun oleh pemerintah setempat. Mengingat pohon kayu bunga kenanga hutan saat ini hanya di peroleh dari tumbuh liar di dalam hutan dan pertumbuhannya pun cukup lambat.
Pohon banyak memberikan manfaat bagi manusia, tetapi terkadang manusia tidak tau bagaimana caranya agar keberlangsungannya tetap terjaga dan lestari. Manusia tidak dilarang memanfaatkan alam sekitar dengan catatan kita dituntut agar tetap menjaga ekosistem, keseimbangan dan kearifannya. Sekian.

5 komentar:

  1. mantap....jadi ingat ceramah guru, jar sidin jangan takutan kada dapat jodoh, kada mungkin parang tu kada bakumpang...gkgkgkgk

    BalasHapus
  2. @Iezul: han bisa banar utuh ni, komentarnya kaya urang handak banar babini ha...hehe..

    BalasHapus
  3. Blum karing handak lagi

    BalasHapus
  4. Nice posting Sobat,..
    Happy Blogging

    BalasHapus